Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Wednesday, January 4, 2023

Anak Jadi Tahu Pengeluaran Keluarga

 


Ini salah satu pengalaman saya yang menyenangkan ketika mengajar. Saya sungguh menikmati proses belajar siswa-siswa saya.

Hari ini saya megajar kelas XI jurusan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan. Materi yang saya ajarkan adalah Facts and Figures dengan sub materi Reading and Understanding Tables. Pada Kurikulum Merdeka materi ini sengaja saya pilih karena keterkaitannya dengan mapel produktif  dimana siswa biasa melihat angka dan data seperti RAB, ukur tanah, dll. Maka saya kaitkan untuk nantinya masuk dalam rumusan kalimya pada pemahaman bermakna.

Saya awali kegiatan belajar dengan pertanyaan pemantik seperti, apakah kalian pernah lihat tabel. Saya senang dengan jawaban siswa-siswa saya yang yang bersahut-sahutan menjawab dengan benar.

Setelah itu saya beri tugas berikutnya yaitu mereka mencari apa pengertian, guna dan jenis-jenis tabel lalu menuliskannya di word. Waktu pengerjaannya dibatasi 45 menit. Tetapi pada kenyataanya tugas ini memerlukan 2 jam pelajaran atau sekitar 90 menit.

Setelah mereka menemukan dan paham tentang table, tugas berikutnya adalah membuat tabel tentang Family Expenses. Saya minta mereka untuk menulis apa saja belanja keluarga selama 1 minggu, jenis, jumlah dan harganya. Disinilah saya menemukan keasyikan melihat proses belajar mereka. Waktu mereka mengerjakan saya batasi 30 menit, meskipun saya tahu kenyataannya bahkan sampai 90 menit. Hai ini tidak mengapa dibandingkan dengan manfaat belajar yang akan mereka dapatkan. Ada percakapan yang mengharukan saya. Salah satu siswa laki-laki mendekati saya dengan polosnya berkata,

“Bu, saya kan tidak tinggal sama bapak ibu, jadi saya tidak tahu pengeluaran keluarga saya.” Saya menahan tawa sekaligus haru.

“Lalu kamu tinggal sama siapa?”

“Sama Budhe.”

“Oh, ya kamu ingat-ingat saja selama di rumah, Budhe masak apa saja? Minumnya beli atau rebus air? Ada gas atau yang lain yang harus dibeli?”

“Oh, gitu, ya. Kalau nanti yang saya tulis sedikit tidak apa-apa, ya? Soalnya saya jarang di rumah, maksudnya jarang makan, gitu.”

“Tidak, apa-apa, tulis saja di tabel.”

“Makasih, ya Bu?”

“Ok.”

Ada juga siswa lain bertanya,

“Bu, kalau saya makannya 120 gram sekali makan, sehari 3 kali berarti saya makannya 360 gram, ya? Padahal di rumah saya ada mama, papa, sama kakak. 4 orrang.”

“Ya, dihitung, kalau rata-rata perorang sama seperti kamu, berarti 120 kali 4. Jadi 480 gram perhari terus kalikan seminggu.”

“Jadi, 480 kali tujuh ya, Bu?”

“Iya. Berapa?”

“3360 gram. Berarti hampir 3,5 kilo ya, Bu? Lha, beras sekilo harganya berapa?”

Siswa lain menjawab,

“7 ribu?”

“Heh! Ndak ada! Beras tuh sekilo 11 ribu! Ya kan, Bu?” bantah yang lain sambil meminta persetujuan saya.

“Tergantung, yang kalian makan di rumah jenis berasnya apa? Kalau C4 super ya sekitar 15 ribuan. Coba kalian cek di google harga beras hari ini. Jangan asal buka, ya cek juga kapan sumber informasi yang kalian baca itu dipublis. Jangan sampai kalian baca hasil tayangan 2001 wah... pasti harganya sudah berubah!”

“Jadi, buat beras 540 ribu perbulan ya. Cuma buat beras?” gumam siswa itu sambil menatap tabel di laptopnya.

Lalu saya dengar diskusi, argumentasi dan konfirmasi mereka tentang harga sembako dan pengeluaran keluarga mereka. Betapa asiknya saya mendengar percakapan mereka, sambil berkeliling memeriksa progres kerja mereka.

Tugas ini ternyata membuat siswa jadi tahu pengeluaran orangtua mereka dalam hal makan, belum yang lain. Saya sengaja tidak meminta mereka untuk menghitung uang sekolah, listrik dan lainnya, tetapi saya percaya mereka bisa memperkirakan sendiri seberapa banyak uang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka menjadi lebih hati-hati dalam meminta keperluan yang tidak penting kepada orangtua. Hal ini penting menurut saya karena sebagian besar siswa tidak berlatar belakang ekonomi yang kuat.

 


Wednesday, December 28, 2022

Yang Nakal Yang Jadi Orang?

 



            Seringkali kita mendengar kalimat yang diucapkan oleh guru demikian. Pertanyaannya adalah, kenapa dulu, ketika (siswa tersebut) bersama guru, dibawah bimbingan guru, pada masa belajarnya bisa nakal. Sedangkan setelah lulus, tanpa keberadaan guru dia bisa berhasil? Apa yang salah? Apa tolok ukur nakal dan apa kaitannya dengan keberhasilan?

            Kalau nakal diartikan sebagai banyaknya tingkah yang tidak sesuai dengan keinginan guru, maka mungkin itu bukan nakal, tetapi keinginan untuk diperhatikan, dihargai atau diakui kehadirannya. Atau mungkin kebosanannya karena pelajaran tidak memancing hasrat ingin tahunya.  Kalau nakal berhubungan dengan kriminal, mungkin itu nakal sejati. Namun demikian kedua nakal itu pasti punya ‘sejarah’. Bisa jadi bermula dari pengasuhan orangtua yang tidak konsisten menerapkan nilai-nilai etika atau hasil dari pertemanan yang tidak terwarnai nilai-nilai etika. Sehingga siswa tersebut menderita split personality dalam menerapkan nilai benar dan salah baik dalam pandangan universal maupun dalam pandangan agama.

            Periode sekolah, sangat diperlukan ketelitian dan kesabaran guru, orangtua atau orang dewasa lainnya yang bertanggungjawab pada perkembangan siswa tersebut. Sayangnya bahwa sistem persekolah yang klasikal dan menuntut hanya kemampuan kognigtif membuat guru dan orangtua tidak puas ketika siswanya mendapat nilai dibawah KKM. Pengejaran nilai sesuai KKM adalah hal yang sia-sia ketika terjadi pengabaian pada minat siswa.  Akibatnya diakhir semester, guru akan berusaha memanipulasi nilai siswa dengan tugas ‘pokoknya dikerjakan’ dan siswa yang terheran-heran dengan tingginya nilai yang dia dapat. Mata rantai ‘kesesatan’ ini  terus berulang dan entah bagaimana memutusnya.

            Siswa yang berhasil, katakanlah demikian, baik dalam bentuk mendapatkan pekerjaan, atau melanjutkan ke universitas ‘bergengsi’ padahal dulunya biasa saja, atau cenderung nakal mungkin bukti dari lemahnya kepedulian pendidik, siapapun dia, selama masa sekolah. Disisi lain, belum diketahui juga apakah pekerjaan itu sesuai dengan minat dan bakatnya atau sekedar mencari penghasilan yang pada akhirnya membuat siswa tersebut tidak bisa berkembang atau bahkan stress dan akhirnya meninggalkan pekerjaannya. Atau yang melanjutkan ke universitas, celakanya, salah jurusan lagi. Yang mungkin terpaksa dijalani karena tidak punya pilihan lain atau tidak mampu melihat peluang yang lain.

            Sesungguhnya setiap manusia dilahirkan dengan potensi dan bakatnya masing-masing. Seharusnya pendidikan dapat memaksimalkan potensi terbaik siswa dan sekolah adalah sarana yang memudahkan potensi itu mewujud menjadi kebermanfaatan bagi masyarakat. Ini adalah tantangan bagi sekolah dan guru-gurunya untuk membangun suatu system pemberdayaan siswa sehingga siswa menemukan potensi terbaiknya tanpa berbenturan dengan progam yang telah ditetapkan pemerintah. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah mulai dari seleksi penerimaan siswa. Bukan dengan tingginya nilai. Sekali lagi tingginya nilai tidak mencerminkan minat dan bakat siswa. Bisa jadi seorang siswa punya bakat gambar tetapi karena nilainya tinggi ia bisa memilih jurusan lain, statistik misalnya, karena dianggap lebih bergengsi. Dalam hal ini, karena gengsi dia mengabaikan potensi terbaiknya.  Atau hal-lain yang memperburuk masalah tersebut.

            Seleksi berdasarkan test bakat, apabila dilakukan, setidaknya akan memberi gambaran yang lebih memadai untuk melihat kecenderungan siswa. Setelah tes bakat, wawancara bersama orangtua akan lebih memperjelas kemana siswa mesti diarahkan. Bila dua hal tersebut dilaksanakan maka berapapun nilai yang dicapai siswa di pendidikan sebelumnya tidak akan banyak pengaruh terhadap berkembangnya potensi berikutnya. Maka dengan gembira kita bisa mengatakan no one left behind tidak ada siswa yang gagal. Masa sekolah bisa dilewati dengan baik dan efektif karena sekolah bukan untuk mengejar nilai tapi benar-benar mengembangkan kemampuan terbaik mereka. Tentu saja hal ini butuh kerjasama semua pihak, sekolah, orangtua dan masyarakat.

Daily Test Element Writing and Presenting : Argumentative Text

  Before you do the test, read the directions. Do the test yourself. Copy and paste the text and questions into your blogs then publish! Pla...