Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, January 17, 2023

Filofosi Pak Kancil : Hidup Nir- Amarah

 



As salamu 'alaykum orang hebat se-Indonesia

Kancil yang akan saya ceritakan bukan tokoh kancil dalam fabel “Kancil Mencuri Timun”. Tapi Pak Kancil yang saya maksud adalah salah satu penjual di kantin sekolah. Saya menganggapnya rekan kerja. Bicara dengan Pak kancil seperti berendam di telaga bening. Terlihat jelas bebatuan didasarnya dan segala yang ada didalamnya. Suaranya datar range-nya antara nada fa sol la, tidak do rendah yang membuat telinga begah sampai do tinggi melengking yang membuat kepala pening. Gaya bicaranya tidak bertele-tele, lugu apa adanya. Dia bicara dari hati dengan logat Bahasa Jawanya yang khas Semarangan.  Lelaki gempal pendek itu bertutur tentang menjalani kehidupan.

“Hidup itu dijalani saja. Terima semua ketentuan. Wong semua sudah ada yang mengatur. Jangan sampai  berbuat yang buruk.”

Diapun bertutur santai tentang kebohongan,

“Jangan bohong. Saya takut kalau bohong nanti saya dosa. Saya ajarkan anak-anak untuk jujur, ngomong apa adanya. Jan-jane orang yang suka berbohong, ngapusi itu hidupnya capek. Awalnya mungkin orang percaya sama omongannya, tapi kalok terbukti bohong ya lama-lama dibiarkan saja. Apalagi kalok orangnya mbanggel ndak mau dikasih tahu. Wis, jarke wae. Rak usah diurusi. Ngko kan mati dhewe.”

Lain kali lelaki kepala lima itu bertutur tentang rejeki,

“Lha jadi orang kok ngoyo. Rejeki ki wis diatur gusti Allah. Ndak selalu yang kerja keras itu pasti rejekinya jadi banyak. Kerja keras itu ikhtiar, soal jumlah itu sudah ada aturannya. Ada orang yang kerja banting tulang, sikil dadi sirah, sirah dadi sikil ya hasilnya segitu-segitu saja. Tapi yo tidak boleh bermalas-malasan, nanti jadi beban orang. Wis, kabeh peparingane Gusti piro-piro iku yo dipakai buat kelangsungan hidup. Itu saja.”

Di kesempatan berikutnya lelaki dari beberapa cucu itu bertutur tentang amarah,

Marah? Buat apa kalau semua sudah ada yang mengatur. Malah membuat dosa. Marah juga ndak bisa merubah keadaan. Tapi anehnya  banyak orang lebih suka marah. Belum mendengar sudah marah. Sudah mendengar, tidak mencari bagaimana menanganinya dengan baik malah marah duluan. Marah pada istri yang mendampingi atau pada anak yang jadi tanggungjawabnya, kan aneh? Saya itu tidak mau marah-marah. Kalau ada yang butuh sesuatu ya dicarikan. Kalau tidak ada ya dijawab tidak ada. Ndak usah mengada-ada wong marah ya ndak bisa membaikkan keadaan.

Saya selalu menikmati tuturannya sambil menyeruput kopi instan dan gorengan. Dua kombinasi makanan yang tidak menyehatkan tubuh bersanding dengan tuturan yang menyehatkan jiwa.

Sehat-sehat ya, Pak Kancil.



Saturday, January 7, 2023

Kantung Mata dan Kantung Uang

 



        Ini rutinitasku tiap malam sebelum tidur. Membersihkan muka dengan  lotion dan toner bengkoang. Merk perawatan wajah dengan tagline sesuai untuk daerah tropis. Setelah malang melintang menjelajah berbagai merk facial cleanser, aku kembali ke merk jadul yang bertahun-tahun berhasil bertahan ditengah serbuan merk-merk baru yang menjanjikan hasil hanya dalam 2 minggu. Ah, janji bohong yang anehnya dipercaya banyak wanita. Kuratakan lotion itu ke seluruh permukaan wajah sampai leher. Diamkan semenit. Kemudian kusapu dengan kapas kering. Agak rude caraku membersihkan. Kesusu selak ngantuk. Lalu kuoles tonernya. Sampai ke seluruh area yang tadi kena lotion. Nah, segar sekarang. Tinggal menggunakan night cream yang kubeli dari klinik kecantikan tersohor di kotaku. Katanya untuk menghilangkan flek-flek coklat yang mulai muncul di kulit wajahku.  Kupakai krim itu dengan tidak terlalu berharap wajahku jadi kinclong. Kok bisa tanpa berharap? Iya, aku merasa kalau memakai krim ini  hanya untuk menambal anxiety feeling  daripada tidak memakai. Begitu. Kira-kira. Senseless banget he…he… Dengan pijatan ringan kusapukan ke seluruh permukaan wajah. Selesai. Aku mengerjap-kerjapkan mata. Lalu tatapanku jatuh ke bawah mataku di cermin sana. Ini dia! Kantung mataku yang sejak remaja memang sudah gelap tampak bertambah gelap. Mungkin karena dulu, aku ini kutubuku, sehari bisa 8 jam membaca, melahap buku-buku receh sampai filsafat hingga sekarang kupetik hasilnya. Bukan ilmu yang luar biasa tapi kantung mata yang merosot tidak mau kencang. Hadeeh. Lalu dengan apa mesti kuhilangkan? Minimal berkuranglah. Setidaknya kalau kantung mataku ini tidak terlalu tampak, wajahku bisa terlihat lebih indah. Lalu aku akan berusaha supaya pandanganku berbinar-binar sehingga banyak laki-laki yang jatuh cinta. Halah…!

    Kemudian aku mulai browsing mencari sebab akibat dan solusi paling tepat untuk menghilangkan kantung mata yang mau lari saja ini. Di google chrome kuketik ‘cara menghilangkan kantung mata’. Klik. Ini mengatakan sebabnya ini, itu mengatakan sebabnya itu. Mengatasinya dengan pakai timun. Ada yang mengatakan pakai teabag bekas yang disimpan di kulkas lebih dulu. Ada yang menyarankan tomat. Ya, ya… mungkin bisa aku coba. Biasanya, kalau menggunakan bahan-bahan alami itu hasilnya butuh waktu lama. Oke. Coba cari produk yang masuk akal. Kuketik lagi ‘krim penghilang kantung mata’. Oh… salah, ya! Kalau kantung matanya hilang terus kayak apa tampilan matanya?!! Serammm…!! Aku ulang ‘krim untuk kantung mata hitam’. Klik. Hanya dalam sekedipan mata ternyata yang keluar ‘krim penghilang kantung mata’. Setelah membaca beberapa, rasa kepoku tidak terpuaskan. Seakan aku hanya mendapat opini dari orang-orang yang tidak paham dengan kantung mata. Lagi kuketik ‘how to get rid of eye bag’. Dalam waktu kurang dari 1 detik muncul 374.000 hasil pencarian. Google memang joss!! Tapi yang lebih joss lagi yang nulis di google, dong! Ternyata oh ternyata, sama saja isinya. Mungkin penulis-penulis berbahasa Indonesia hanya menerjemahkan saja. Informasi dari dua bahasa tapi isinya sama. Tidak perlu su’udzon. Ini bukti bahwa pembelajaran bahasa Inggris berhasil dengan sangat memuaskan. Lalu aku kembali lagi di situs bahasa persatuan. Kali ini aku buka ‘rekomendasi 10 krim penghilang kantung mata’. Baiklah. Aku baca satu persatu, mulai dari pendahuluannya, paparannya, sampai nama-nama merknya. Rasanya kayak baca proposal penelitian.

Salah satu komposisi yang penting dari eye cream adalah kandungan pelembap. Pilihlah eye cream yang banyak mengandung pelembap agar kulit di sekitar mata Anda tidak mudah kering. Contoh kandungan pelembab ceramides, proteoglycans, glycosphingolipids, hyaluronic acid, lipids, peptides, collagen, glyserin, BG, DPG, PCA-Na, dll.  Pastikan eye cream pilihan Anda tidak hanya mampu menjaga dari tanda-tanda penuaan, tetapi juga mengandung formula yang bisa menjaga kesehatan kulit. Contoh formula pengencang kulit Retinolhuman oligopeptide-1, human oligopeptide-13, human oligopeptide-14human oligopeptide-4, acetylhexapeptide-3, palmitoylpentapeptide-4, acetylhexapeptide-8, fullerene, ubiquinone, platinum, dan lain-lain. Contoh formula pemeliharan kesehatan kulit turunan vitamin C, dipotassium glycyrrhizinateallantoin, dan lain-lain. Hasil akan didapat dengan pemakaian terus menerus dan pengaplikasian yang benar.

    Dan aku pusing setelah membacanya. Ternyata urusan kantungmata saja begitu rumitnya. Lalu aku mulai menelusuri produk-produk yang direkomendasikan. Dari harga 50 ribu sampai 3 juta pertube dengan berbagai varian volumenya. Haa…! Ada to krim mata yang harganya 3 juta! Ampyuun…deh. Itu duit buat belanja sebulan! Kembali ke mataku. Ah, aku bingung. Sebetulnya kantung mataku ini terutama butuh yang kandungan apa, ya? Setelah menimbang-nimbang, akhirnya dasar seleksinya adalah pengawuran. Kupilih salah satu yang menurutku paling lengkap diantara produk yang paling murah. Akhirnya kuputuskan membeli yang seharga 78 ribu/tube isi 20 g. Semoga bisa mengurangi dark cycle eye and eye bag yang meresahkan wajahku.

    Lalu jadilah rutinitas malamku bertambah dengan pengolesan eye cream dan pemijatan ringan di sekitar mata. Kali ini aku tidak membeli online karena ada toko kosmetik besar yang aku lewati tiap kali pulang kantor. Jadi aku beli disana harganya tidak jauh berbeda dengan tambahan ongkos parkir 3 ribu. Beberapa hari kemudian, aku lupa sekali. Terus lupa lagi. Terus kucari krim itu kesingsal entah kemana. Karena tube-nya kecil kadang terselempit di sela-sela alat make-upku yang lain dan aku malas mencarinya. Lalu ketemu. Lalu kupakai lagi malamnya.  Lalu entah dimana lagi aku letakkan. Dan seterusnya. Lalu aku lihat kantung mataku lagi. Hmm… masih seperti kemarin.


Ikhtiar Langsing

 


Haiya…haiya…! Teriakku tertahan ketika pagi itu angka pada timbanganku berhenti di 62.3.  Betapa cepatnya karbo ini terbentuk menjadi tumpukan lemak di tubuhku. Aku tidak tahu pastinya dimana. Menurut perkiraan dan perasaanku, tubuhku suka banget menyimpan lemak di perut, lengan atas dan paha, sedikit di pipi. Tidak di betis, karena lingkar betisku tidak bertambah. Juga tidak dijari-jari. Semua dibuktikan dengan meteran jahit yang kupunya.  Baiklah. Aku menarik napas. Apa yang mesti dilakukan? Dengan tinggi 156 dan berat 62 tentu jauh dari ideal. Menahan tidak ngemil itu harapan yang entah kapan terjadi. Tidak makan nasi akan berakibat pada menurunnya produktifitas pikir. Mencari alternatif makan nasi merah, I think it will be difficult. Makan ketela? Aduhh… jangan deh! Itu mengingatkanku pada masa-masa sulit ketika kecil dulu, bapakku tidak bisa beli beras, akhirnya kami semua makan ketela, hampir setiap hari. Jadi aku tak ingin mengulang penderitaan masa itu disaat ekonomi sudah membaik sekarang ini. Tidak…!  Bagaimana kalau kentang? Yahhh… nanti akhir-akhirnya digoreng, malah parah.

Bagaimana kalau ikuti saran teman yang minum shake. Badannya sekarang bagus, lho. Dulu beratnya 73kg. Sekarang stay di 56 katanya. Wah, keren dong! Boleh juga. Kan nggak bagus banget, sudah tua, gendut, keriput lagi. Mana menariknya? Sudah begitu nanti diikuti komplikasi, jari-jarinya kaku kalau bangun tidur. Asam urat. Punggung dan leher belakang terasa seperti menahan beban. Mungkin kolesterol. Sering pipis malam hari. Prediabet. Suka berkeringat dan deg-degan. Gangguan jantung. Kepala kenceng. Darah tinggi. Banyak banget jeleknya. Hidup seperti itu kan bukan pilihan.

Maka aku setuju dibawa teman ke sebuah klinik shake sekitar jam 10 pagi. Aku menyebutnya klinik sebab disini pembeli di doktrin untuk mempunyai pola makan sehat ditambah dengan mengkonsumsi produk tersebut. Dan segala hal yang berkaitan. Aku mulai ditimbang. Tetap diatas timbangan sampai alat itu berbunyi tit…tit…tit… tiga kali baru aku boleh turun. Lalu pemilik klinik itu mencatat banyak sekali angka dalam kolom-kolom di kertasnya. Lalu dia duduk dihadapanku. Ibu, kondisi tubuh Ibu parah banget, ya. Katanya. Berat ibu masuk kategori overweight. Lemak tubuh harusnya 22-29, Ibu 37. Tinggi sekali kan? Kadar airnya 40, normalnya 40-60%. mepet. Rating fisik Ibu 3 harusnya kan 5, ini menunjukkan Ibu kegemukan.  Lemak perut 7 harusnya 5. Usia sel 54 padahal Ibu 47, jadi selnya tua duluan. Harusnya bisa jauh di bawah 47. Masa otot Ibu 32 harusnya 37. Ibu jarang olehraga, ya?  Begitulah tubuhku dievaluasi. Bukan dikritik. Aku menyetujui semua paparannya. Lalu dengan kondisi ini berapa sebetulnya kebutuhan kaloriku sehari? 1200. Itu artinya, aku hanya boleh makan sekitar 3 sendok nasi. Sisanya protein. Tidak boleh digoreng. Tidak boleh ada gula. Jadi semua direbus. Hmm… Beberapa saat kemudian shake pesananku datang. Satu gelas besar berisi sekitar 1 liter ditambah teh energi, katanya begitu, sekitar 600 ml. Harus aku habiskan. Awalnya aku tak percaya perutku bisa menampung semua itu dalam waktu singkat. Untunglah tadi pagi aku belum makan. Ternyata aku mampu menghabiskan minuman yang ternyata enak juga di lidahku. Begitupun tehnya. Harganya? 40 ribu. Sekali minum.

Lalu aku mulai menghitung. Biasanya kalau jam sepuluh aku jajan, sekitar sepuluh ribu. Terus makan siang sekitar 20 ribu. Jadi untuk makanan biasa aku mengeluarkan 30 ribu. Berarti sesungguhnya aku hanya perlu menambah 10 ribu saja. It’s worth lah dengan harapan bisa hidup lebih sehat dan berat badan ideal. Aku membayangkan dengan menerapkan pola ini beberapa minggu ke depan bisa menurunkan berat sekitar 4 kg menjadi 58. Dua minggu kemudian turun lagi 2 kg, tercapailah ideal. Aku bisa memakai lagi baju-bajuku yang dulu. Pinggangku akan terbentuk lagi, lenganku mengecil, perutku mengempes dan tentu saja, lemak-lemak yang bergelantungan diberbagai wilayah perbodianku hilang semua. Bahagianya!

 

Kembali ke kantor, aku meneruskan beberapa pekerjaan yang tidak terlalu urgen. Jam menunjukkan pukul 13.15. Perutku mulai keroncongan. Bu Siti belum datang ya, Bu? Kudengar  seorang teman bertanya. Bu Siti, penjual tenongan yang biasa mampir di kantor sesudah dhuhur memang belum datang. Libur mungkin. Baru beberapa menit, tiba-tiba kudengar pintu terbuka, dengan senyum khasnya Bu Siti meminta maaf datang terlambat. Seperti fenomena sego sak kepel dirubung semut, begitulah kami yang berada di ruangan tersebut mengerubungi bu Siti. Dia  segera menggelar segala makanan produknya sendiri. Nasi bakar, sayur, oseng-oseng, sate, ayam goreng, gurame, bacem dan segala yang ada di warung tegal ada semua. Komplit, plit! Beberapa saat kemudian aku sudah menikmati sebungkus nasi, tahu bacem, sepotong ayam goreng, oseng daun papaya dan sayur lodeh. Sungguh aku lupa kalau hari itu aku harus mulai menghitung kalori yang masuk!

 

Sumber ilustrasi:

https://www.vectorstock.com/royalty-free-vector/cartoon-fat-woman-vector-5799170


Seolet Kolagen Seglowing Porselen

 

Scroll up. Scroll down. Online shop. Collagen facial wash. Day cream collagen. Night cream collagen. Begitulah aku melihat iklan-iklan perawatan kecantikan. Betapa indahnya istilah ini. Sangat menghargai wanita. Meskipun ada yang dikaruniai wajah ngepas jauh dari segala indikator cantik, tetap saja masuk dalam kategori cantik karena yang dirawat adalah kecantikan bukan kejelekan. Tidak ada produk perawatan kejelekan, kan? Maka kenapa produk ini laris manis tidak ada matinya, dengan ratusan merek yang punya janji manis yang membuat wanita tunduk dijajah imej. Aku salah satu ‘pribumi’ yang terjajah. Dengan umur mendekati kepala lima, godaan untuk tampil kesat, kencang, glowing tanpa cela merajalela di otak kiri maupun kananku. Dukungan finansial sebagai pegawai dengan gaji diatas lima juta membuat godaan itu makin menggoyahkan iman. Iman akan hidup zuhud, tawadhu, dan nrimo ing pandum. Kalau sudah tua itu ya wajar keriput beranak dimana-mana terutama di mata. Aku sebut saja pakai bahasa Inggris ya biar tidak terlalu mengerikan. Salah duanya Shaggy eyes dan forehead wrinkle. Nah, yang kedua ini sangat jelas. Kalau habis sholat pakai mukena yang lubang kepalanya ada kerutnya, sesudah sholat kan biasanya doa diteruskan dzikir atau baca al Quran, begitu kan? Kira-kira sekitar tigapuluh menitlah. Ketika mukena dilepas, apa yang terjadi? Dahinya kriting, bo’! Bener nggak, sih! Ya pasti bener! Itu tanda menurunnya produksi estrogen yang menghasilkan kolagen yang berguna salah satunya untuk kekenyalan kulit. Nah, sekarang nyambung, kan, kenapa aku mencari produk yang mengandung kolagen? Di sebuah situs aku mendapatkan kalimat ini:

 

Wrinkles, also known as rhytides, are folds in your skin. As you age, your skin produces less of the proteins collagen and elastin. This makes your skin thinner and less resistant to damage. Environmental exposure, dehydration, and toxins can all make your face more likely to develop pronounced wrinkles. Wrinkles are a natural part of getting older, and there’s no reason to dread getting them.

 

Begitulah. Kemudian aku mendapat satu produk buatan Korea. Warnanya pink. Harganya 80 ribu pertube dengan isi 120 gram. BPOM RI. Entahlah hasilnya nanti apa. Namanya juga ngawur-ngawuran milihnya. Tapi 80 ribu kan sayang. Oke, cari lagi barangkali ada yang share jar. Eureka!! Ada. Harganya jadi 40 ribu. Beli sekarang, klik. Log in, klik.  Harga dan ongkos kirim jadi 49.000. Lumayan dapat setengahnya! Horay..! Cara pembayaran, pilih klik. Waktu untuk pembayaran sampai jam sekian, klik. Perkiraan sampai alamat pemesan 2-3 hari kerja. Baiklah. Cantik itu memang perlu usaha. Ini usahaku. Tiga hari kemudian, sebuah bungkusan kecil datang. Betul sesuai dengan yang dipesan. Maka aku mulai menggunakan facial wash itu. Setiap mandi pagi dan sore. Saben hari tanpa jeda. Kecuali kalau aku tidak mandi saja. Dan itu hanya terjadi beberapa kali. Dua minggu berlalu. Sebulan berlalu. Aku amati wajahku biasa saja tidak ada perubahan yang berarti seperti diiklankan. Masih saja bersandang kerut. Double chin-ku masih disana. Shaggy cheek sebelah kiri dan kanan bertengger dengan pongahnya. Hmm… Barangkali kulitku tidak cocok dengan produk ini. Atau barangkali produk ini KW3. Atau dua-duanya. Kulitku tidak cocok untuk produk KW. Ah, sudahlah. Memang mau komplain sama siapa? Esok paginya, seperti biasa, di kamar mandi, kulihat produk itu tinggal se-olet. Ya, terakhir, kuoletkan jari membersihkan tabung kecil berisi krim itu sampai habis tak bersisa, menggosoknya ditelapak lalu menyapukannya ke seluruh wajah seperti biasa. Selesai sudah urusanku dengan produk itu. Untung kemarin aku beli share jar, bukan yang utuh, coba bayangkan kalau aku harus mengeluarkan uang 90 ribu untuk produk yang tak ada hasilnya begini, rugi kan?

Hari ini aku akan dapat kiriman buku dari seorang teman. Katanya ia akan mengirim seseorang untuk mengantarnya. Aku belum pernah berjumpa dengan orang itu. Tepat jam sepuluh, pengantar itu datang. Seorang wanita muda cantik, yang umurnya sangat jauh terpaut dariku. Kulit wajahnya seperti yang kuinginkan. Bersih, glowing dan tentu saja tanpa kerutan. Halah….! Ngimpi kale… batinku berteriak. Tahu diri, Jeng! Setelah selesai urusan, aku minta selwe bersamanya. Lalu kami berpisah. Aku lihat foto kami, dengan aplikasi filter kubuat agar lebih terang sedikit. Aku tidak terlalu suka memodif foto hingga jauh dari tampilan aslinya. Lalu kukirimkan lewat wa. Mbak Santi cantik ya.. tulisku. Beberapa saat kemudian dia membalas. Thanks, Ibu. Ibu juga cantik lho, glowing banget, pingin… diakhiri emoticon tertawa. Olala…!!! Klik online shop. Ketemu produknya. Beli sekarang, klik. Harga 80 ribu plus ongkir 9 ribu, klik. Pilih pembayaran, klik. Tunggu 3 hari. 



Huban

 


        Kulepas ikatan cepit rambut lalu menggeraikannya dengan menggelengkan kepalaku beberapa kali. Lalu kubiarkan helai-helai itu jatuh tidak rata menutup kepalaku sampai punggung atas.  Wajahku mendekati kaca, bola mataku terangkat ingin melihat berapa helai yang warnanya sudah memerak. Syukurlah belum seberapa.  Agak tidak suka dengan warna yang berbeda ini. Tapi alam memaksaku untuk menerima kenyataan setelah empat dekade lebih  diberi warna hitam kemerahan alias rambut jagung, sekarang bertambah satu warna lagi. Ah, ingin kucabut saja. Tapi aku takut nanti kepalaku tidak bercahaya ketika sampai akhirat. Sudahlah, kusibakkan seluruh helaian kebelakang. Mungkin aku akan ke salon besok, minta dicat warna coklat tua, atau perak grey hair sekalian seperti Reza Artamevia. Tapi… kalau aku yang mengenakan warna itu mungkin jadi sedikit menakutkan. Baiklah akan kuwarna coklat tua saja. Kira-kira habis duaratus ribu. I can afford it. Dua jam treatmen. Aduuhh, ini yang aku keberatan. Duduk dua jam sambil nyunggi lembar-lembar foil yang mengepit rambut biar pewarnanya meresap… Ahaiii… perlu dikaji ulang!

            Tapi, aku tak ingin tampil tua. Dengan huban yang mulai menjajah, aku tak lagi akan dipanggil mbak. Pasti kemana-mana aku akan dipanggil Bu, atau lebih parah lagi Nek, Mbah atau Yang. Ah… tidak suka!! Aku kan belum punya cucu, meski anakku sudah selesai kuliah. Suka atau tidak dia akan mendapatkan jodohnya dan kawin. Setahun kemudian mungkin aku akan menjadi nenek. Tapi aku kan wanita! Sudah jadi naluriku kalau aku ingin tampil muda, hangat, dan menyenangkan. Dengan rambut yang masih tebal begini, aku yakin bisa mencapainya. Tapi helai abu-abu ini betul-betul membuatku resah. Meskipun belum banyak. Apakah aku potong pendek dulu, lalu dirawat dengan minyak kemiri, yang kata orang bagus untuk mempertahankan warna hitam, tiga kali seminggu. Baru kemudian kubiarkan tumbuh. Mungkin bisa begitu. Tapi kan lamaa…! Butuh setahun mungkin atau dua tahun. Itupun kalau kutikula rambutku mau seiya sekata dengan minyak kemiri. Kalau egonya lebih besar dan memaksa tumbuh dengan warnanya sendiri? Yaaah, percuma dong! Jadi bagaimana? Pilihannya serba tidak nyaman. Baiklah. Kembali pada keputusan pertama. Di cat! Berapa lama sih cat rambut tahan? Bukannya kalau dikeramasi lama-lama hilang ya? Cari yang mahal dikitlah biar awet. Tapi kan rambut tumbuh? Akarnya pasti akan berbeda dengan batangnya, iya kan?  Hmm…

            Lalu kulihat lagi dengan seksama di depan kaca. Sama seperti tadi, kudekatkan wajahku. Bola mataku mendongak, berusaha melihat kulit kepalaku sebisa-bisanya. Tempat akar-akar rambut menumbuhkan batangnya. Berputar kiri kanan dibantu tanganku yang menarik, meluruskan, mengoyak, mengobrak-abrul, menyisirnya dengan jari dan seterusnya. Sampai kemudian kutundukkan badan dan kepala. Pada posisi itu kubalik rambut hingga jatuh tergerai ke depan. dengan gerakan cepat aku tegakkan badan sekaligus menengadahkan kepala hingga rambutku tersibak keatas dan helainya berjatuhan berantakan. Sebetulnya aku ingin menggoyang-goyang kepalaku kekiri kanan seperti rocker, tapi aku takut pusing lalu jatuh nubruk meja riasku lalu kepalaku terantuk sudut meja, berdarah, lalu jatuh, kena stroke. Ohhh…tidak! Sambil duduk, kemudian kusisir pelan-pelan rambutku dengan tetap menatap kaca. Aku terus memikirkan bagaimana caranya agar warnanya tetap hitam. Pelan-pelan kusisir, kurapikan kebelakang dan kuikat dengan gelang karet. Kupasang bando kain dan kukenakan jilbab. Jam di dinding menunjuk 4 kurang sedikit. Sudah waktunya berangkat pengajian.  


Daily Test Element Writing and Presenting : Argumentative Text

  Before you do the test, read the directions. Do the test yourself. Copy and paste the text and questions into your blogs then publish! Pla...